HILAL SANG PEMBEDA

Alfirdaus Putra Salma
Rangkaian ibadah Ramadhan dan ibadah “fitri” telah selesai di awal juni yang lalu. Harapan satu idul fitri di Indonesia tahun ini (idul fitri di hari yang sama) sekiranya hampir tercapai walau di akhir Ramadhan timbul keraguan bagi masyarakat untuk menggenapkan Ramadhan 30 hari karena Arab Saudi yang dianggap kiblat ibadah umat Islam berhari raya satu hari lebih awal dari sebagian masyarakat Asia Tenggara. Setali tiga uanga dengan awal Ramadhan yang dihadapkan pada perbedaan memulai ibadah puasa 1440 H yang lalu. 1 Ramadhan yang lalu dilaksanakan pada dua hari yang berbeda oleh sebagian masyarakat Aceh, tentu perbedaan itu dikuatkan dengan keyakinan serta pendapat yang rajih dari setiap yang melaksanakannya. Akan tetapi, meskipun sering diklaim sebagai “rahmah” dari sebuah perbedaan, tetap saja menimbulkan sejumlah pertanyaan dan ketidaknyamanan dalam beribadah. Hilalnya satu, mengapa Ramadhan nya berbeda ? dan apakah Idul fitri-nya pun akan dua kali sebagaimana awal Ramadhan?
Perbedaan penetapan hari raya itu tak terlepas dari perbedaan metode yang digunakan. Selama ini dikenal dua  metode yang utama dalam penentuan awal bulan hijriyah, yaitu metode rukyah dan metode hisab. Kedua metode ini sama-sama didasari oleh perintah Rasulullah SAW yang berbunyi “shumu lirukyatihi wa aftiru lirukyatihi” (berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal).
Metode rukyah menggunakan pengamatan langsung dengan mata (rukyah bil-ain) sementara hisab menggunakan pengamatan tak langsung dengan mengandalkan hitungan ilmiah (rukyah bil-ilmi). Meski begitu, kedua metode ini tetap menggunakan ilmu falak dalam prosesnya masing-masing. Hanya saja metode rukyah masih setia menggunakan pengamatan fisik sebagai hasil final keputusanya, sedangkan metode hisab cukup dengan perhitungan ilmiah semata tanpa perlu lagi membuktikan dengan pengamatan fisik.
Dalam menentukan masuknya awal bulan, kelompok yang bersandarkan pada metode hisab murni  berpedoman pada konsep wujudul hilal, yaitu apabila hilal sudah ada secara perhitungan maka dianggap sudah ada secara subtansi walaupun tidak mungkin dilihat baik karena terlalu rendah atau tertutup awan, konsep ini sangat bergantung pada posisi hilal yang sudah berada di atas ufuk. Metode rukyat yaitu yang menetapkan awal bulan hijriah  hanya observasi hilal semata pada akhirnya menghasilkan istimbat hukum apabila hilal tampak pada saat observasi, maka ditetapkan tanggal 1 bulan baru keesokan harinya dan apabila bulan tidak tampak maka diistikmalkan (disempurnakan) 30 hari bulan yang sedang berjalan.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama yang memiliki wewenang ulil amri secara resmi menggunakan metode imkanur rukyah (kemungkinan hilal dapat dirukyat) dalam penentuan awal bulan qamariah, metode ini menyatakan bahwa hilal dianggap terlihat dan keesokannya dapat ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi kriteria dan syarat-syarat berikut: (1) ketika matahari terbenam, altitude (ketinggian) bulan di atas horison (ufuk atau garis batas laut jika dipinggir pantai) tidak kurang dari 2°; (2) jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°; dan (3) ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku. Hal ini didasarkan pada pengalaman  astronomis seluruh dunia yang belum pernah dapat mengobservasi hilal jika belum memenuhi kriteria diatas dan tentunya dengan bukti yang otentik. Kriteria inipun belum dianggap baku, sehingga para ahli tetap meneliti ketiga kriteria pada metode imkan rukyat ini secara berkelanjutan.
Keadaan Hilal Syawal
Dalam penetapan 1 Syawal 1440 Hijriah tahun ini, “ikhtilaf”  sebagai konsekuensi dari sebuah perbedaan diharapkan tidak lagi terjadi. Hasil perhitungan Badan Hisab dan Rukyat Kemenag Provinsi Aceh merilis bahwa ijtima’ awal bulan Syawal terjadi pada tanggal 3 Juni 2019 Pukul 17:03:13 WIB bertepatan dengan 29 Ramadhan 1440 H, posisi hilal secara berada pada minus 0 derjat 11 menit di bawah ufuk untuk markaz Observatorium Hilal Tgk. Chiek Kuta Karang Pantai Lhoknga, Aceh Besar. Walaupun secara imkan rukyat hilal tidak dapat dilihat, Pemerintah tetap melaksakan rukyat sebagai wujud ta’abbudi terhadap perintah rukyat. Kemudian pemerintah akan menggunakan istikmal yaitu menyempurnakan Ramadhan 30 karena hilal tanggal 29 Ramadhan masih belum dapat dirukyat dan hari pertama syawwal akan jatuh pada 5 Juni 2019.
Potensi perbedaan
Merujuk pada keadaan hilal 29 Ramadhan tersebut, maka idul fitri tahun ini seharusnya dirayakan serentak, akan tetapi di Aceh, potensi perbedaan tetap terjadi. hal ini terjadi karena berbeda ketika memulai awal Ramadhan yang lalu. Jamaah “Peuleukong” di Nagan Raya dan sekitarnya telah memulai Ramadhan pada Sabtu, 4/5/2019, dua hari lebih awal dari ketetapan pemerintah, maka diprediksi akan berhari raya dua hari lebih cepat dari yang lainnya. Metode yang digunakan adalah hisab khumasi atau hisab hitungan limoung dengan catatan tidak memulai puasa pada hari rabu atau jum’at.
Potensi perbedaan lainnya adalah bagi sebagian masyarakat yang memulai ramadhan sehari setelah ketetapan pemerintah, yaitu pada hari selasa, 7/5/2019. Perbedaan ini terjadi karena pada rukyat ramadhan yang lalu sebagian masyarakat menganggap tidak di peroleh hilal pada satu mathla’ yang sama saat rukyat hilal tanggal 29 Sya’ban, sehingga saat itu, sya’ban disempurnakan 30 hari, konsekuensinya adalah 1 Ramadhan dimulai satu hari setelah pengumuman pemerintah. Bagi yang memulai ramadhan terlambat dengan argumen belum nampak hilal, maka idul Fitri bisa saja sama dengan pemerintah ataupun sebaliknya. Pemerintah akan melaksanakan rukyat Syawwal pada tanggal 3 Juni 2019 karena bertepatan dengan 29 Ramadhan dan karena hilal minus di bawah ufuk walau ijtimak telah terjadi pukul 17.03 Wib, maka dipastikan ramadhan akan disempurnakan 30 hari dan 1 Syawwal jatuh pada 5 Juni 2019, sedangkan jamaah yang memulai Ramadhan satu hari setelah ketetapan pemerintah maka pada tanggal rukyat syawwal pemerintah, jamaah ini masih berpuasa 28 ramadhan, sehingga akan melaksanakan rukyat keesokan harinya, 4 Juni 2019, dengan ketinggian hilal yang sudah berada 12 derjat 22 menit di atas ufuk. Hilal dengan ketinggian ini sangat mungkin untuk dilihat karena telah berumur 26 jam setelah ijtimak terjadi. sehingga jika hilal dapat dilihat insyallah Idul Fitri akan dilaksanakan secara serentak 5 Juni. Akan tetapi akan berlaku sebaliknya jika hilal tidak dapat dilihat.
Idul Fitri di Arab Saudi vs Indonesia
Pergantian hari dalam Islam kalender hijriah adalah Ba’da Magrib bukan pukul 00.00 sebagaimana kalender masehi dan satu lagi, kalender Islam tidaklah berdasarkan matahari terbit, tetapi berdasarkan keterlihatan hilal (baik secara hisab maupun rukyat).  Ketika terbenam matahari di Arab Saudi 3/5/19, posisi hilal sudah berada di atas ufuk 1 derjat lebih dengan lama hilal sekitar 6 menit setelah tenggelam matahari. Arab Saudi juga menerima klaim rukyat dari masyarakat yang bersedia disumpah, sehingga karena hilal sudah di atas ufuk dan ada klaim rukyat, maka diputuskan idul fitri 4/6/19. Perbedaan keadaan hilal  Ketika terbenam matahari di seluruh 3/6/19 Indonesia bahkan asia tenggara ke timurnya adalah posisi hilal masih minus di bawah ufuk, mustahil untuk di rukyat karena secara perhitunganpun hilal masih nihil. Karena di Indonesia dan asia tenggara hilal masih nihil, tidaklah mungkin di putuskan idul Fitri Selasa 5/6/19, melainkan harus diistikmalkan (disempurnakan) bulan Ramadhan 30 hari. Keterlihatan hilal di Saudi tidaklah berlaku ke Timur jauh, tetapi berlaku sekitarnya dan ke baratnya, apalagi di timur Saudi masih minus di bawah ufuk. Dalam Bahasa fiqh disebut Mathlak yang berbeda. Idul Fitri di Indonesia (asia tenggara dan ke timurnya) tetap 1 Syawwal dengan tetap sama dengan Saudi, tetapi karena perputaran waktu ke arah barat, bukan timur, maka 1 Syawwal di Saudi tanggal 4/6/19 dan 20 jam kemudian baru Indonesia akan beridul fitri dengan tanggal yang sudah berbeda 5/6/19.
Upaya penyatuan kalender hijriah
Upaya penyatuan kriteria awal bulan Hijriah itu sudah lama dilakukan pemerintah. Akan tetapi kesepakatan ini tak kunjung datang karena perbedaan interpretasi terhadap dalil masih menjadi kendala utama. Selama perbedaan ini masih muncul, masyarakat muslim hendaknya tetap menjaga silaturrahmi dan tentunya lebih cerdas memilih dalam rangka meningkatkan kualitas ibadah sesuai dengan ketetapan Allah dan Rasulnya. Mari menyikapi perbedaan dengan bijak sebagaimana kata Ust. Abdus Somad “Bahwa ada perbedaan diantara kita tapi lebih besar persamaannya, mari bekerjasama dari perkara yang disepakati dan adapun terhadap beberapa perbedaan maka kita berlapang dada.

0 Response to "HILAL SANG PEMBEDA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel