PULO ACEH, POTONGAN SURGA YANG TERLUPAKAN (Bagian 1)


Maret 2018, pertama kali saya menginjakkan kaki di Pulau Nasi, ya… pulau indah menawan sebelah barat laut semenjung Sumatera yang masih sangat “nature” dengan segala keindahan lautnya. Pulau Nasi adalah salah satu dari dua pulau besar di Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Keinginan yang sudah terbendung lama untuk menapaki pulau yang dulu terkenal dengan penghasil lawang ini akhir nya tercapai pada kuartal pertama 2018 yang lalu. Kemukiman Pulau Nasi yang terletak 5°37′0″LU,95°7′0″BT hanya terdiri dari 5 desa yaitu, Alue Reuyeueng, Deudap, Lamteng, Pasi Janeng dan Rabo. Pulau ini memiliki beberapa pelabuhan Nelayan, seperti Deudap dan Lamteng, tempat ikan segar mendarat dari samudra hindia hasil tangkapan nelayan tradisional setempat. Nah kawan, berikut beberapa fakta tentang Pulau Nasi, potongan surga yang terlupakan.

1.      PERJALANAN DENGAN BOAT NELAYAN
Boat nelayan adalah salah satu transportasi yang senantiasa ada setiap hari menuju ke Pulo Aceh. Hanya dengan 25.000 rupiah anda akan diantar langsung ke pelabuhan lamteng atau Deudap. Tenang kawan, anda tidak akan di transitkan ditengah samudra, karena perjalanan anda langsung tanpa transit sekitar 1,5 jam saja, hehehe. Jikalau kawan ingin membawa serta kendaraan hanya menambah biaya 20.000 dengan catatan tambahan biaya 5000 rupiah untuk menaikkan motor ke boat nelayan. Nah murah kan. Catatan yang perlu diingat adalah jadwal boat nelayan ini akan berangkat setiap pukul 14.00 WIB dari pelabuhan ulee lhee banda Aceh.
Selain boat nelayan, ada juga kapal penyebrangan sejenis very yaitu KMP. Papuyu dengan biaya sekitar 18.500 rupiah, tetapi kawan harus menelisik jadwalnya terlebih dahulu, karena pendaratan kapal ini harus menunggu air laut dalam keadaan pasang. Karena keadaan pelabuhannya masih sangat alami dan tidak dapat disinggahi kapal besar kecuali dalam keadaan air laut pasang. Nah kami kebetulan menggunakan KMP Papuyu karena jadwal penyebrangannya sesuai dengan rencana perjalanan kami. Alhamdulillah Kapalnya lebih besar dari boat nelayan, hehehe.
bukan dengan kapal nelayan. dok. pribadi.
bukan boat tapi kapal, hehehe

2.      TRANSPORTASI DAN PENGINAPAN
Ada cerita lucu ketika kami tiba di Pulau Nasi, teman saya, Ngatino, menanyakan apakah ada hotel yang menyediakan handuk, Sontak kami tertawa karena jangan kan hotel, penginapan pun harus terlebih dahulu menghubungi kepala desa. Tapi sekarang kawan jangan ragu, sejak ada dana desa, di Lamteng dan Pasi Janeng sudah ada penginapan sederhana. Nah kawan, sesampai di Pulau Nasi tanyakan saja kepala desa untuk konfirmasi ketersediaan penginapan sederhana. Begitu juga dengan transportasi, tidak ada transportasi khusus di sana, kawan dapat mengakalinya dengan membawa motor atau berharap harap cemas ada yang mau merental motor di sana.
penginapan murah tapi nyaman . dok.pribadi.

3.      PANORAMA LAUT YANG MASIH PERAWAN
Pasir putih dengan rerimbunan pepohonan khas samudra masih dapat ditemui di pulau ini, bahkan membentang sepanjang pantainya. Sebut saja Pantai Pasi Janeng, pantai Kaca kacu, Pantai Mata ie, Pantai Deudap dan pantai pantai lainnya. Terumbu karang juga menjadi ciri khas “keperawanan” Pulau Nasi ini, biota laut yang bermacam ragam terdapat diseskitar terumbu karangnya. Contoh dekat saja ketika kawan tiba di Pelabuhan Lamteng, teluk lamteng tersebut menyimpan ratusan terumbu karang yang masih sangat natural dan dapat langsung di nikmati dari atas kapal ketika akan merapat di dermaga
panorama laut yang indah. dok. pribadi.

4.      SUNSETNYA WOiii… MANTAP
Nah, kalau keindahan sunsetnya tentu tidak diragukan lagi. Pasi Janeng nama daerahnya. Wilayah terbarat Pulau Nasi yang langsung menghadap ke Samudra Hindia. Saya dan teman-teman bermalam di desa ini, desa tempat shohib saya berasal, Saifullah namanya, doktor lulusan Khourtum University, Sudan, yang merupakan tuan rumah kami. Tentu bisa anda bayangkan bagaimana indahnya pantai barat  berpasir putih di bawah naungan awan sirus tipis ditemani beberapa anjungan boat nelayan. Sebelah utara dirangkul dengan semenanjung Pulau Breuh yang merupakan saudara sedarah Pulau Nasi. Sungguh merupakan objek photography panorama yang tak boleh dilewatkan.
 
wow.. indahnya. dok.pribadi.
5.      SPOT MEMANCING KAYA IKAN
Gambar di bawah ini buktinya, betapa kayanya jenis ikan di pulau ini. Maka tidak salah kalau banyak pelancong yang ke pulau Aceh khusus untuk memancing, spot memancing pun buaaanyaakkk sekali, sepanjang pantainya,  bahkan nelayan di daratan Aceh pun, mencari ikan di lautan di sekitar pulai ini karena kaya akan ikannya. Mungkin saja fenomena ini bisa menjadi andalan pemerintah setempat untuk menjadikan Pulo Aceh sebagai wisata bahari memancing.
 
mancing oi....... dok.pribadi
hasil pancingan. dok.pribadi.
6.      GURITA TANGKAP TANGAN
Zulfahmi, kawan saya trip to Pulo Aceh, wisatawan memancing ini menjadikan tangkap “noh”, sebutan untuk gurita kecil, sebagai target utamanya mengunjungi Pulo Aceh. Kami menunggu air laut surut untuk menangkap gurita kecil itu, karena ketika air laut surut, terumbu karang akan tampak jelas, dan segala macam biota laut termasuk gurita akan bersembunyi di balik terumbu karang. Nah, ketika itu kami mulai bergerilya mencari sang gurita. Bismillah. Kawan, kamu harus mencoba juga lho.

Nah, tunggu apalagi, ayo rencanakan trip to Pulo Aceh, Pulo Nasi dulu, Pulo Breuh kemudian. (alfirdausputra)

0 Response to "PULO ACEH, POTONGAN SURGA YANG TERLUPAKAN (Bagian 1)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel