SECANGKIR KOPI RINDU "Catatan Tanah Gayo the Series"


Sekitar 1402 mdpl, rerata ketinggian di sekitar laut tawar, Takengon. Dataran tinggi yang benar benar dikelilingi  oleh pengunungan yang menjulang tempat suburnya tanaman Arabica Gayo. Maka tidak sah kalau 7 hingga 8 jam perjalanan yang telah saya tempuh dari Kota Banda Aceh tanpa merasakan nikmat panas kopi gayo, panas kopinya kawan hanya bertahan beberapa menit saja, karena dinginnya woi, merasuk hingga ke dalam tulang. Apalagi di bulan bulan seperti ini, kata pujaan hati saya, kabut saja masih memenuhi relung kota takengon hingga pukul 7,30 pagi.

Dan sruupp, sekali tegukan kopi non gula membuat nafas terhenti sejenak merasa nikmatnya arabica espresso spesial Horas Coffee Shop. Benar benar spesial kawan, kamu harus coba, percaya deh.

Kawan harus tahu, kopi di tanah gayo adalah salah satu varietas arabica terbaik di dunia ini. Kalau you penikmat kopi, tentu bisa membedakan pahit nya kopi gayo dengan pahitnya kopi brazil yang memang terasa berbeda. Dengan jenis biji kopi yang berwarna hijau gelap, agak besar dan dedaunan berbentuk oval, batang kopi yang ketinggiannya selalu dijaga 2 – 3 meter saja, kopi tanah gayo dapat menghasilkan berbagai jenis turunannya seperti, peaberry gayo, luwak gayo, longberry, kupi ramong dan buanyaaakk lagi lainnya.
sandiwara panen kopi. dok. pribadi
Beberapa sejarah mencatat kopi di tanah gayo hadir berbanding lurus dengan masuknya penjajah Belanda ke Aceh, beberapa menyebutkan 1904 lah lahan perkebunan kopi mulai dibuka secara luas pada ketinggian 1000 – 1700 mdpl. Bukti bukti arkeologispun dapat dilihat dengan beberapa sisa pabrik sederhana pengeringan kopi masa Belanda di Wih Porak, Silih Nara Aceh Tengah. Ada juga yang menceritakan bahwa kopi gayo berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Konon ceritanya di Bandar Lampahan sekitar 35 km sebelah barat Takengon pertama mendarat kopi tersebut, dan ketika ditanam di tanah gayo lahirlah varietas yang lebih enak dan wangi katanya, ehm.. saya menjamin benar benar wangi harum yang luar biasa, karena saya telah mencicipi beberapa jenis kopi di beberapa daerah Nusantara. 
 
Horas coffee shop. dok.pribadi
A.R.B. Coffee shop. suasana malamnya. dok. pribadi
Kalau kawan secara sengaja atau sekedar lewat kota Takengon, saran saya jangan pernah lupa untuk menikmati walau hanya secangkir kopi gayo, untuk jenis kopi terserah pilihan anda kawan, asal jangan kopi saset dengan berbagai merek karena kawan sedang berada di lumbung penghasil kopi yang tastenya dinanti dunia perkopian dimanapun. Kedai yang dapat kawan kunjungipun bermacam, tapi saya sepertinya sudah memilih tiga diantaranya yang dapat menjadi rujukan karena selalu menjaga kualitas rasa, Horas Coffee Shop di Jalan Sengeda, A.R.B Coffee Shop di Jalan Lebe Kader atau Kedai Hitam Putih di samping terminal Paya Ilang. 
kopi rindu. dok.pribadi.
Sruppp, tegukan kedua arabika espresso saya dengan rasa yang  masih sama walau sudah agak dingin mengikuti 17 derjat celsius cuaca sekitar Takengon pagi ini. Istimewanya kopi pagi ini tidak hanya segelas, tapi dua, satu untuk saya dan satu untuk sang pasangan hati. Untuk seterus nya tidak mungkin saya kisahkan lagi. Karena kopi pagi ini adalah kopi “rindu” seminggu lamanya. Hehhehe.  (afp)

0 Response to "SECANGKIR KOPI RINDU "Catatan Tanah Gayo the Series""

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel